Http://t.me/toko_kitab

Sabtu, 16 Februari 2019

*📚🌳. MENGENAL SOSOK ULAMA (AHLi Hadist) AHLUSSUNNAH YAMAN :*

*ASY-SYAIKH MUQBIL BIN HADIY AL-WADI'IY [rohimahulloh rohmatan waasi'ah]*

Bagi kalangan penuntut ilmu, nama asy-Syaikh Muqbil rahimahullah termasuk nama yang dekat di hati. Banyak upaya yang telah beliau perbuat untuk umat. Khususnya untuk dakwah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tak semata di Yaman, tetapi juga di segenap penjuru bumi.

Beliau termasuk figur yang berdedikasi dalam menyebarkan pemahaman salaful ummah. Kesehariannya selalu diisi dengan taklim, ibadah, dan beramal kebajikan. Beliau lahir di Dammaj, sebuah daerah yang terletak sebelah tenggara kota Sha’dah. Jarak antara Dammaj-Sha’dah sekira 9 km. Adapun Sha’dah-Shan’a berjarak kurang lebih 250 km.

Dammaj merupakan daerah subur. Daerah yang dilalui sebuah wadi (lembah). Apabila hujan lebat mengguyur Dammaj dan area seputar Bukit Baros, air meluap mengalir di lembah tersebut. Sebuah pemandangan langka kala lembah yang memanjang membelah Dammaj itu dialiri air deras meluap.

Kehidupan masyarakat Dammaj kebanyakan dari bercocok tanam dan beternak. Di antara hasil pertanian yang menonjol adalah anggur hitam yang sangat manis. Bila musim tanam, sejauh mata memandang diliputi warna hijau daun. Seakan dibentangkan karpet hijau di tengah padang pasir yang dikitari gunung bebatuan. Dammaj menyimpan berjuta kenangan. Manis getir terpatri dalam sanubari.

Di Dammaj, Allah subhanahu wa ta’ala takdirkan lahir seorang bayi laki-laki. Bayi itu diberi nama Muqbil. *Lengkapnya, Muqbil bin Hadi bin Muqbil bin Qaidah al-Hamdani al-Wadi’i al-Khilali dari kabilah (suku) Alu Rasyid.*

Asy-Syaikh adalah seorang berkewarganegaraan Yaman, seorang Yamani. Wadi’i merupakan nisbah yang disematkan kepada penduduk yang tinggal di Dammaj dari Hamdan, Sha’dah.

Hamdani adalah asalnya. Lalu disebut Dammaji terkait tanah kelahirannya. Adapun nama kuniahnya adalah Abu Abdirrahman.

Beliau rahimahullah memiliki tiga istri, yaitu Ummu Abdirrahman al-Wadi’iyah (wafat mendahului beliau), Ummu Syu’aib al-Wadi’iyah, dan Ummu Salamah al-Umraniyah.

Dari istri pertama, Ummu Abdirrahman al-Wadi’iyah, dikaruniai dua orang putri, yaitu Ummu Abdillah al-Wadi’iyah atau dikenal juga dengan sebutan Bintu asy-Syaikh dan Ummu Ayub al-Wadi’iyah.

Tidak diketahui secara pasti tanggal dan tahun kelahiran beliau rahimahullah. Pada tahun 1420 H, beliau pernah mengungkapkan perihal usianya. “Dulu ayah kami tak pernah memerhatikan perihal tanggal kelahiran. Umur saya (sekarang) antara 65, 66, atau 67 tahun.”

Usia hidup beliau rahimahullah sungguh diberkahi. Waktu-waktu beliau tidak pernah keluar dari masalah keilmuan, pembelajaran, memberikan nasihat, menulis, berzikir dan memurajaah. Tak ada waktu tersisa yang kosong. Tidaklah asy-Syaikh rahimahullah masuk ke dalam urusan dunia kecuali urusan tersebut mendatangkan manfaat bagi dakwah dan bisa menepis bahaya terhadap dakwah.

*🍏. BEBERAPA AKHLAK TERPUJI*

*Beliau memiliki sikap tawadhu’ (rendah hati), tak tinggi hati, dan tak merasa paling berilmu. Dalam sebagian perjalanan (rihlah), seringkali sikap tawadhu itu muncul.*

Satu hari, saat kami menempuh perjalanan bersama asy-Syaikh, terlihat seseorang yang lebih berilmu dan mencintai Sunnah dibandingkan dengan kami. Lantas terucap dari lisan beliau, “Seandainya saya tidak sibuk, sungguh saya hadir dalam pelajaran fulan.”

Asy-Syaikh pun kerap kali mengatakan kepada para penuntut ilmu, “Engkau lebih mengetahui daripada diri saya.”

Kata-kata yang menunjukkan sikap rendah hati beliau walau di hadapan para muridnya.

Sikap tawadhu itu pun terpantul dari kemudahan beliau untuk ditemui. Tidak perlu acara protokoler resmi, tak perlu perantara untuk menghubungi. Bila memungkinkan untuk bisa bertemu, bisa langsung berbicara dengan Asy-Syaikh. Bisa di majelis setelah shalat atau setelah pelajaran, bisa pula di rumah beliau, atau saat beliau keluar rumah menuju masjid atau wadi. Begitu mudah untuk menemui asy-Syaikh.

Asy-Syaikh sangat berlapang dada menerima al-haq walau dari orang yang paling keras permusuhannya kepada beliau. Beliau mau mengambil sikap rujuk manakala ditemukan kesalahan pada dirinya.

Kata Asy-Syaikh, *“Sungguh saya bersaksi kepada kalian, betapa saya akan rujuk bilamana ditemukan kesalahan dalam buku-buku karya saya, audio rekaman saya, atau dalam dakwah saya yang mengajak kepada Allah ‘azza wa jalla. Saya rujuk dengan sepenuh jiwa yang baik lagi tenang.”*

Untuk keluarga, disediakan waktu khusus, yaitu setelah Ashr. Asy-Syaikh mengerjakan pekerjaan rumah guna membantu keluarganya. Kerapkali beliau menolong membelahi kayu, menggali tanah menanam pohon, membantu memecahkan masalah keluarga, memenuhi apa yang diinginkan keluarga, dan melayani sendiri para tamunya dari kalangan penuntut ilmu, para da’i, dan para pemuka kabilah (suku). Beliau melayani sendiri tanpa harus meminta bantuan. Sebuah sikap tawadhu nan luhur.

Kesabaran beliau pun laik dicontoh, termasuk kesabaran dalam mengajar. Walau keadaan fisik tengah sakit, beliau tetap mengajar.

Satu hari pada hari Jumat, beliau menaiki tangga guna mengambil sebuah kitab. Tiba-tiba beliau terjatuh yang mengakibatkan tangannya patah. Setelah mendapat perawatan dan pengobatan beliau tetap melangsungkan pelajaran. Walau dengan tangan digantung, pelajaran tidak terhenti, tetap lanjut. Beliau tetap mengajar.

Apabila keadaan terpaksa lantaran tubuh beliau tak kuat, beliau tidak mengajar. Namun, beliau tetap hadir di majelis mendengarkan pelajaran yang disampaikan pengganti asy-Syaikh. Sebuah kesabaran yang melahirkan dedikasi yang sedemikian tinggi dalam menyampaikan ilmu dan dakwah ke jalan Allah subhanahu wa ta’ala.

Kesabaran beliau terukir pula saat mengawali dakwah di kampung halamannya sendiri. Merintis sebuah dakwah tentu tidak mudah. Beragam tantangan dan kendala akan menghadang. Adanya kekurangan sarana fisik. Permusuhan dan kebencian dari orangorang sekitar. Dana yang amat sangat terbatas.

Namun, semua itu tak lantas menjadikan seorang penyeru kebenaran mundur lalu jatuh terkulai layu. Justru tantangan, kendala, dan ujian menjadi pembakar semangat seraya terus bertawakal dan memohon pertolongan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Beliau memulai dakwah di sebuah masjid kecil. Di masjid kecil yang hanya berdinding bata, beliau memulai pelajaran. Dengan sarana yang teramat terbatas, beliau terus merajut benang-benang dakwah. Mengajari penduduk kampung mengenali al-Qur’an. Menanamkan pada masyarakat cinta terhadap sunnah rasul dan membenci bidah. Secara bertahap membangun fondasi tauhid dan merobohkan keyakinan syirik. Padahal, di kampung halaman beliau, pemahaman Syiah telah mendarah daging pada sebagian besar penduduk.

Atas pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, dakwah yang beliau tunaikan mendapat sambutan dari berbagai kalangan, bahkan disambut hingga ke mancanegara.

Keikhlasan serta kepedulian asy-Syaikh untuk berjuang dalam bidang ilmiah sangat tinggi. Kecintaannya terhadap ilmu teramat besar. Kecintaan beliau ini disertai pula semangat untuk menyebarkannya. Semangat yang menyala itu terlukis pada sikap keseharian dalam mengajar.

Tatkala asy-Syaikh masih menjadi mahasiswa program pascasarjana di perguruan tinggi, tesis yang diajukan untuk meraih gelar magister (S2) sempat disarankan oleh seorang profesor bidang akademik untuk dipilah. Satu bagian judul pembahasan tesis diperuntukkan guna memenuhi syarat memperoleh gelar magister (S2). Satu bagian lagi—dari tesis tersebut—dijadikan bahan disertasi guna meraih gelar doktor (S3).

Saat itu Asy-Syaikh mengajukan tesis untuk memperoleh gelar magister berjudul al-Ilzamat wa at-Tatabbu’ li ad Daruquthni. Pembimbing menyarankan agar masalah al-Ilzamat dijadikan bahan penyusunan tesis guna meraih magister. Adapun masalah at-Tatabbu’ dijadikan bahan penyusunan disertasi guna meraih gelar doktor.

Namun, saran tersebut ditolak oleh beliau. Berkali-kali disarankan kepada beliau untuk membaginya. Namun, berkali-kali pula beliau menolak seraya mengucapkan, “Saya tidak memandang ijazah.”

Itulah wujud keikhlasan beliau. Kesungguhan dan perjuangannya dalam lapangan ilmiah tak tergiur dengan titel. Beliau bersungguh-sungguh dalam melakukan penelitian dalam kerangka ilmiah semata. Beliau tunaikan semuanya ikhlas karena Allah subhanahu wa ta’ala.

Beberapa petikan potret akhlak asy-Syaikh menunjukkan kepribadian yang luhur. Kepribadian seorang alim rabbani. Seorang yang memiliki dedikasi tinggi dalam bidang pengajaran, dakwah, dan keumatan. Kepribadian tanpa pamrih, sarat daya juang tinggi, penuh keikhlasan, kesabaran dan tawakal. Itulah salah satu wajah seorang ulama Ahlu Sunnah pada masanya.

*Asy-Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkhali y menyebutkan tentang asy-Syaikh Muqbil rahimahullah—diucapkan sehari atau dua hari setelah asy-Syaikh Muqbil wafat,* *“Beliau seorang yang saleh, pakar hadits, zuhud, wara’, dunia dan segenap hiasannya berada dalam pijakan kedua kakinya.”*

*“Sesungguhnya keberhasilan dakwah kita setelah bertakwa kepada Allah, ikhlas, dan dengan ilmu yang bermanfaat,” kata asy-Syaikh Muqbil bin Hadi rahimahullah.* *Sebuah wasiat penting dari seorang alim rabbani bagi para da’i, penuntut ilmu dan segenap umat Islam.*

Sumber :
http://asysyariah.com/asy-syaikh-muqbil-dakwah-di-tengah-basis-syiah/

~> Gabung Channel :
[▪️] https://telegram.me/KEUTAMAANILMU
[▪️]https://telegram.me/SERIAKHLAQULKARIMAH

Muqoddimah

بسم الله الرحمن الرحيم Assalamu'alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh 🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱🌱  ðŸ’­ Segala pujian hanya m...